Tawur Agung Kesanga, untuk Kebersamaan Umat

Kompas.com - 16/03/2010, 03:34 WIB

KLATEN, KOMPAS.com--Menteri Agama, Suryadharma Ali, mengatakan, ritual "Tawur Agung Kesanga" (Wisuda Bumi) menjelang Hari Nyepi memantapkan semangat kebersamaan dan persaudaraan umat Hindu terutama dalam memelihara lingkungan sosial dan alam.

"Upacara ini mempererat rasa kebersamaan umat, mengedepankan persaudaraan untuk memelihara lingkungan sosial dan alam semesta dengan baik," katanya di sela upacara "Tawur Agung Kesanga" di Candi Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, di Klaten, Senin.

Ritual itu sebagai bagian penting bagi umat Hindu dalam merayakan Hari Nyepi yang jatuh pada Hari Selasa (16/3).

Ia mengatakan, perayaan Nyepi makin bermakna bagi umat Hindu jika  tidak sebatas dilaksanakan di tataran upacara dan rutinitas keagamaan.

Pada kesempatan itu Suryadharma atas nama pemerintah menyampaikan selamat kepada umat Hindu di Tanah Air yang sedang merayakan hari besar keagamaan mereka, Nyepi.

Saat ritual "Tawur Agung Kesanga" itu, katanya, umat Hindu memohon kepada Sang Maha Pencipta agar terbangun keharmonisan alam dan perdamaian manusia.

"Upacara ini dapat menjadi motivasi bagi umat dalam bertindak supaya sesuai dengan nilai-nilai kebaikan bagi alam dan sesama," katanya.

Ia mengatakan, keharmonisan hubungan manusia dengan alam semesta sebagaimana diamanatkan dalam nilai ritual itu hendaknya diterapkan dalam kehidupan sosial, berbangsa, dan bernegara.

Selain itu, katanya, ritual itu meningkatkan kesadaran umat untuk melestarikan alam dan lingkungan hidup. Alam dan lingkungan semakin rusak akibat perbuatan keliru manusia.

Pada kesempatan itu ia menyatakan mengajak umat meningkatkan partisipasi dalam membangun pendidikan, kesehatan, kehidupan sosial, dan ekonomi untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia mengatakan, tujuan ritual itu harus lebih membumi dan relevan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.

Ritual "Tawur Agung Kesanga", katanya, sebagai waktu bagi umat Hindu menyiapkan diri masuk kepada penyepian batin dan meleburkan seluruh nafsu manusia.

Selain itu, katanya, umat memberikan pengakuan terhadap keberadaan alam semesta sehingga tidak ada penghuni alam yang dianggap nista.

Pada kesempatan itu, katanya, umat Hindu memperoleh kesempatan kontemplasi dan berdoa kepada Sang Pencipta yang mengatur jalan hidup manusia.

"Saudara diberi perjalanan hidup termasuk meningkatkan pengabdian kepada keluarga, negara, dan bangsa," katanya.

Upacara itu, katanya, juga memberikan landasan kepada umat Hindu untuk menghindari berbagai perbuatan buruk, mematuhi perintah dan larangan agama, serta memegang moralitas.

Mereka, katanya, didorong untuk meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan sebagai bagian dari Bangsa dan Negara Indonesia.

Ia mengatakan, Hari Nyepi juga menjadi momentum saling memaafkan terutama antaraumat untuk selanjutnya membuka lembaran kehidupan yang baru yang lebih baik.

"Dengan tidak memberi ruang dan tempat bagi munculnya segala bentuk kejahatan karena kejahatan hanya akan menyengsarakan umat manusia," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau